Mengemis kepada-Mu

Entah aku harus mulai dari mana tentang ini semua.
Kenikmatan, kesalahan, keburukan, kejahatan, kamuflase dan sebagainya sudah pernah dilakukan.
Ingin rasanya memutar jarum waktu yang sudah berlalu dan mengoreksinya detik demi detik.
Inilah penyesalan yang datangnya belakangan tapi semata tidak mengusaikan semuanya.
Semua itu bagaikan tumpukan file-file musik yang bisa di play kapan saja yang memenuhi lapang otak dan hati.
Entah aku yang tak pandai mensyukuri atas pemberianMu yang selalu aku balas dengan kesalahan dan keburukan lagi dan lagi.
Sampai menumpuk menjulang tinggi yang tanpa aku bisa hitung.
Karunia yang tak terhingga aku balas dengan ketundukanku pada hawa nafsu yang aku lakukan secara sadar.
Tuhan apakah Engkau memberikan maafMu untukku?
Apakah Engkau mengampuniku?
Ataukah itu hanyalah alasanku untuk bisa menambah kesalahan atau keburukan yang baru?
Dalam kitabMu AmpunanMu sangat luas, bahkan lebih luas dari definisi yang dipahami manusia dan bahkan lebih luas dari seluruh kamus didunia ini yang mendefinisikan arti luas tersebut.
Memang aku tak pandai bersyukur atas hidup ini yang Engkau berikan untukku.
Aku dengan seenaknya sendiri meminta-minta maaf tetapi mengulanginya tanpa bosan setiap saat dimana saa.
Dengan kasih sayangMu yang tak terlampaui.
Sampai detik ini aku masih bisa bernapas merasakan sejuknya udara yang masuk kerongkonganku menuju ke paru.
Sebagai keberlangsungan proses kehidupan tubuh ini.
Tubuh ini bisa bergerak, duduk, berdiri, berjalan, berlari, dan bahkan menyungkur ketanah.
Tak lain merupakan kekuatan dariMu yang kau titipkan pada tubuh ini.
Aku bak halnya butiran debu disebuah kursi disuatu ruang atau bahkan lebih kecil dari itu.
Teruntukku termakasih Tuhan atas kasih sayangMu yang tak pernah terputus sedetikpun.
Selalu dekaplah aku dalam naungan ampunan-Mu meskipun aku meronta dengan dosa-dosa
Tuhan perkenankanlah aku mohon ampunan-Mu sekali lagi dan lagi.

Komentar